menu bar

Tuesday, 7 April 2020

Tuesday, 7 January 2020

Jurnal 4# Pulang Sehari Setelah Hujan

Yogyakarta, 1 Mei 2019

Jurnal 2# Tak Merasa Menua

Yogyakarta, 07/03/2019
Kota Jogja tinggal kan genangan kenangan sisa hujan semalaman. Tak apa lah semalam penuh dengan ketukan hujan, teman ku dalam rindu. Seakan semalam adalah quality time untuk merindukan masalalu yang bener bener tidak di sangka, kita akan bener berpisah dan aku masih duduk di sini untuk merindukan mu.

Pagi yang tenang, tanpa ku harus mandi pagi, dengan bergegas untuk pergi kerja. Tapi pagi ini penuh pesan WhatsApp yang masuk, tapi salah satu nya bukan pesan mu. Pesan WhatsApp ternyata dari grub temen temen lama yang saling merindukan semasa bersama, sampai aku larut euforia masa lampau. Tak terasa aku sekarang udah segini tua untuk bermain-main lagi, tak ada waktu mencari-cari jati diri lagi, bingung dalam jurusan masadepan, dan euforia euforia percintaan penuh drama. Semua berjalan tanpa ada rencana, tak ada lagi rencana difikiran pendek yang ada hanya perjalanan panjang yang harus tetap berjalan.
Sekarang harus mikir belanja istri, susu anak, SPP anak (candaan pagi kawan lama ) pikiran ketika sudah lama tak bertemu dan menyapa lagi, padahal dahulu kita saling bertemu, bertukar pikiran dan sekarang hanya ada pesan WhatsApp singkat pengobat rindu. Harus cocok - cocok jadwal untuk bertemu, janjian untuk pergi hengout bareng, padahal kala masih bareng kita hanya muncul perasaan biasa saja sih.

Wednesday, 6 March 2019

Jurnal 1# Pakai Hati rapuh, Pakai Akal Egois

Yogyakarta, 06/03/2019
Kota Jogja di guyur hujan dari sore dini hari, tak kunjung reda, entah reda air yang terus-terusan jatuh atau rindu membara. Yah rindu lagi, rindu lagi, tak kala hujan turun dari kebanyakan orang duduk termenung hingga hujan tumbuh kan kenangan kenangan manis bersamanya dia, iya dia dia yang benar kamu sayang dengan tumpah darah, tak bisa kamu paksa untuk tetap disini, disamping mu.

Tak kala harus ada yang ku rindukan dikala hujan turun, aku tak mau memilih mu untuk aku rindukan, kenapa ? Pasti kamu tau jawabannya. Tak kala aku berfikir dengan akal , " mana punya hak aku untuk merindu, di moments sekarang ? Toh siapa sih aku " jadi cambuk cambuk dikala aku rindu. hujan oh hujan kalaupun kamu adalah makhluk yang berdosa maka kamu makhluk paling penuh dengan dosa, kamu menyiksa saya dalam persaan benar - benar membuat seluruh badan rasakan mati rasa. Rindu dalam perasaan, rapuh pilu seakan jadi makhluk yang paling lemah, senggol jatuh.

Seperti kata seorang sahabat, " Udah berumur, jangan terlalu pakai Hati" sontak berfikir kalau pun pakai akal seseorang akan jadi egois, akan jadi timbul rasa "bodo amat" . Egois pada diri sendiri pun, saya tidak menganjurkan. Karna selagi masih ada HAM (candaan lah) jangan membatasi diri untuk memulai kembali, merasakan kembali, melalui kembali bebaskan dirimu untuk berekspresi. Bukan hanya karena satu peristiwa yang membuat mu untuk menutup diri. Kalau pun takut untuk memulai dengan alasan " Pengendalian diri ", itu tidak masalah. Jangan memaksakan kalau memang bukan diri mu, menjadi orang lain bukan membuat jadi baik malah memperburuk kondisi.

Tp aku sendiri yg tau seberapa kuat hatiku, jadi  motivasi seseorang agar tidak terlihat lemah, rapuh, ketika hatinya tersentuh perih. Bahkan petarung panglima tempur pun ketika hatinya tersentuh akan luluh tunduk. Hanya saja pengekspresian itu saja seseorang bisa dilihat tegar atau drop saat hati nya tersentuh.
Ingin rasanya gak mau berurusan dengan hati , hanya saja sekali mencoba bermain hati ada efek candu. Candu untuk mencintai, menyayangi, dan saling memiliki pada hati yang mampu mengobati nya dari sakit jadi kebahagiaan.

Kota Jogja, pukul 01.02 masih saja tetap gerimis dengan ketukan hujan menemani malam ku, dengan tulisan dan pesan WA. Masih duduk, merasakan rindu tapi tak tau siapa yang sedang di rindu, kalau tak berniat rindu padamu aku kan tetap rindu pada bapak ibu ku, boleh kan ?

" Kalau masih ada HAM di negri ini, makan aku masih bebas merindu kan mu hari ini "